Tampilkan postingan dengan label liburan lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan lebaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

Ke Magetan

بسم الله
Setelah bapak tiada, lebaran kali ini tidak ke Yogya sebagai tujuan utama. Ada ajakan untuk ke Magetan, Jawa Timur dekat perbatasan Jawa Tengah.

Seperti biasa, lalu lintas ramai dan dari pantauan baik berita maupun radio komunikasi dipilih hari minggu 7 april jam 10an berangkat. Ini karena ada aturan kendaraan plat nomor ganjil genap yang akan berlaku jam 14.00. Yang disesuaikan dengan plat nomor kendaraan. Berangkat dengan 2 mobil.


Alhamdulillaah bisa dibilang lancar walau tak bisa cepat. Secara tak sengaja pula, kami dapat rest area yang baik. Biasanya kami di Pintu tol Ciperna  tapi saat itu di pintu tol Kertajati.



Kami bermalam di rumah kakak di Pekalongan. Paginya berangkat menuju Solo tidak langsung, mampir di Semarang. Dan menginap lagi semalam di Solo.

Selasa 9 April menuju Magetan. Lewat Tawangmangu dan Sarangan. Dan kami mampir di obyek wisata. Sekalian lewat.











Di Grojogan Sewu ini masuk dari pintu 1 melalui tangga yang menurun. Disarankan keluar melalui pintu 2 jadi tak perlu mendaki ke atas saat balik.  Ada kendaraan yang disediakan pengelola. Pulang menuju pintu 1, naik pick up.


Di Sarangan menuju ke telaga, naik speed boat. Sore ba'da ashar, cuaca sudah berkabut. Di sini tak ada yang bisa dilihat kecuali telaga dan penjual makanan yang memenuhi pinggir jalan sekitar telaga. Hanya rasa penasaran saja, sudah lewat dan dekat koq gak mampir.




Mendekati magrib menuju alun-alun Magetan. Berbuka di sana dan shalat. Setelah itu ke Pak Lik dari adik ipar. Dilanjut bermalam di Hotel tak jauh dari alun alun.


Kamis, 08 Juni 2023

Lebaran 1444H


بِسْمِ اللّٰهِ

Lebaran 1444H, seperti pernah terjadi, kejadian tidak bersamaan antara pemerintah dan salah satu organisasi masyarakat. Dan kebetulan tujuan tempat kami berlebaran, Yogya,  tidak sama dengan pemerintah. Maju satu hari. Tanggal 21 April. Tapi semua sepakat bahwa tanggal tersebut adalah hari Kartini. 😀

Lebaran tahun ini pula kami hanya berempat karena Rama belum bisa dapat cuti. Maklum pegawai baru.

Seperti tahun² sebelumnya, berangkat h-2, 19 April. Karena ada kebijakan pemerintah soal lalu lintas di tol yang diberlakukan satu arah serta lawan arah pada kilometer tertentu untuk mengurai kepadatan juga agar tidak terlalu lama meninggalkan rumah. 

Kami berangkat bersama dengan keluarga adik. Jadi dua mobil. Karena kami kena musibah, ban bocor, kami bermalam di Semarang. Baru diketahui penyebab ban bocor saat membeli ban baru. Karena penyebabnya tertancap pada spakbor, yaitu gunting.

.

Untunglah masih ada toko ban buka. Maklum sudah tinggal 2 hari lebaran versi pemerintah. Biar gak kerja dua kali, sekalian spooring mobil di toko ban tersebut. 


Sekitar jam 11 berangkat menuju Yogya. Kami sempatkan mampir di Eling Bening, sebuah tempat wisata di Ambarawa. Mumpung masih suasana puasa jadi tidak ramai.






Mengambil foto sepuasnya selagi tidak ramai. 

Menuju Yogya, mencoba jalan tol Yogya - Solo tepatnya keluar pintu tol Colomadu yang baru mencapai 6 km. Itupun masih dalam tahap pengerasan dengan beton. Dibuka untuk memperlancar arus mudik dan situasional. Kebetulan dapat pas dibuka.


Sore hari menjelang magrib kami tiba di Yogya, alhamdulillaah. 

Rabu, 25 Mei 2022

Akhirnya Bisa Mudik Lagi


بِسْمِ اللّٰهِ

Alhamdulillaah, lebaran tahun ini sudah bisa mudik. Tentu dengan memperhatikan prosedur kesehatan alias pakai masker, rajin cuci tangan dan menghindari kerumunan. Dan seperti biasa menengok bapak yang tinggal bersama adik dan anaknya di Yogyakarta.

Seperti tahun sebelumnya perkiraan akan kemacetan pasti ada. Biasanya jam sore-magrib dan subuh. Maka berdasar pengalaman itu, juga informasi lewat tv dan radio, kami berangkat jam ba'da dhuhur tanggal 30 April. Selain one way, tanggal tersebut dipilih karena ada rekayasa lalu lintas pengguna tol yang menerapkan sistem nomor kendaraan ganjil dan genap yang menyesuaikan dengan kalender.

Sesuai prediksi, perjalanan tanpa banyak hambatan. Ternyata kami juga mendapatkan bahwa sistem ganjil genap sepertinya tidak berlaku. Atau bisa jadi karena banyaknya kendaraan, petugas tidak bisa mensortir dengan baik. 



Sisi sebelah kiri banyak mengalami kemacetan. Hal ini karena perlambatan ketika mendekati rest area. Setelah itu biasanya ramai lancar. Berbeda dengan yang sisi kanan, karena sifatnya situasional, dibuka ketika sisi arah Jakarta-Semarang mengalami penumpukan kendaraan dan kebetulan kami mendapatkan kesempatan tersebut. One way berlaku dari gerbang tol Cikampek hingga Gerbang tol Kalikangkung, Semarang. Dari km 70 - 414 jika tak keliru.

Menjelang Brebes, waktu mendekati maghrib. Kami masuk rest area, tentu yang posisi di sebelah kanan. Relatif lebih sepi. Selain isi bbm juga persiapan buka puasa dan ke toilet. Dengan situasi seperti ini, perkiraan sampai di Yogya sekitar jam 22-23. Dan kami memutuskan untuk segera lanjut tanpa menunggu waktu buka puasa.

Kodarullaah, sepertinya kami tak diijinkan untuk langsung Yogya. Kendaraan mengalami kerusakan pada sistem suspensi. Dudukan shockabsorber bawah belakang pecah sehingga shock lepas. Shock terpaksa dicopot. Dan kami berjalan dengan satu shock dibelakang sambil mencari bengkel las. Kami mendapatkannya di Petarukan, Pemalang dengan bantuan dari petugas tol.



Sambil menunggu pekerjaan las selesai, kami shalat dan makan. Karena bengkel las ini memang dekat dengan masjid dan didepannya ada warung bakso. oh ya, nama pemilik bengkel, pak Basiri.


Sekitar jam 12 malam kami sampai di Semarang dan menginap di tempat bu Lik. Sekitar jam 6an kami berangkat kembali ke Yogya. Melalui tol dan karena kami tak ingin buru-buru sampai Yogya, kami keluar di Sala Tiga. Menuju Yogya via Ketep Pas.







Kamis, 13 Juni 2019

One Way

Foto taken by rama

Sistem satu arah diberlakukan mulai h-5 dan  h+2 saat lebaran 1440 H. Diberlakukan secara situasional. Artinya saat terjadi kepadatan sistem tersebut berlaku. Panjang pendek waktunya tergantung kondisi dilapangan.

Kami berangkat pada tanggal 3. 2 hari sebelum hari H. 


Foto taken by rama

Alhamdulillaah, selesai subuh dari Jakarta hingga Semarang lancar. Bisa ditempuh dalam waktu 6 jam. Di Semarang menyempatkan diri untuk menengok kerabat sekalian istirahat dan sholat. Lanjut kembali, menuju Yogya. Masih lewat tol, menuju Boyolali. Masih lancar.

Keluar Boyolali dipilih karena lalulintas dari Kartasura - Prambanan terpantau dari googlemap ada banyak hambatan. Dari Boyolali lewat alternatif menuju Klaten relatif lebih lancar.



Keluar tol menuju jalan alternatif, sekalian melewati alu-alun lor. Menyempatkan diri ambil gambar. Di alun-alun lor ada beberapa patung replika keajaiban dunia. Borobudur, Taj Mahal, Spinx.


Jalur pink adalah kedatangan dan hijau arah pulang Jakarta. Pada waktu balik, rupanya jalur alternatif sudah banyak yang mengetahui. Jadi lumayan padat. Cenderung banyak berhenti. maklum jalan kabupaten yang hanya cukup buat 2 kendaraan roda 4. Sehingga kami ambil arah lain. Jatinom ke utara. Jalan lumayan. Sepertinya masuk hutan atau semacam perkebunan.

Pada waktu mudik ini kami tak mengalami kemacetan yang berarti. Balik ke Jakarta setelah acara pertemuan keluarga, pada hari Sabtu 8 Juni. Diakhiri dengan penutupan makan siang bersama. Berangkat dari Yogya sekitar pukul 14.30.




Seperti biasa, kembali lewat tol. Boyolali sebagai titik awal. Prambanan sudah bisa dipastikan mengalami banyak kepadatan lallu lintas. Alternatif memang jadi pilihan. Sayangnya ternyata banyak yang  memilihnya. Walaupun tak ada kemacetan berarti tetapi banyak waktu yang terbuang karena kendaraan tak bisa melaju dengan cepat.


Dari Prambanan menuju Klaten terus kembali alternatif menuju boyolali. Sayang di Sala Tiga kami kena kemacetan. Walaupun bisa lewat alternatif tetap saja dikepung dengan kemacetan. Lewat alternatif Tuntang memutari Bawen. Pintu gerbang tol Bawen sudah banyak diserbu yang mau masuk tol. Kami menghindarinya. Lewat jalur reguler menuju Ungaran. Berjalan merayap.

 Sala Tiga
 
Alternatif Tuntang - Ambarawa
.Alternatif lingkar Ungaran


Sekitar Bergas kami mengambil jalan alternatif mengitari Ungaran. Setelah itu jalan sudah mengalir lancar, ramai. Sampai di Jomblang, Semarang sekitar jam 11.30. Istirahat di tempat kerabat.

Minggu 9 Juni berangkat dari Semarang jam 11.00 Ini karena mampir beli bandeng. Di toko sudah cukup ramai pembeli. Bahkan sudah pada antri di kasir.

Masuk tol Semarang, dialihkan lewat kaliwungu. Tentu ini untuk menghidari penumpukan di gerbang tol Kalikangkung. Lancar dan sudah berlaku one way.

Karena mengambil jalur kanan, kami tak bisa keluar di Ciperna untuk sholat. Di arahkan ke Plumbon. Di sini pun juga tidak bisa keluar dengan menggunakan kartu e-tol. Dari pada nanti masuk tol kembali mengalami kesulitan, kami minta ijin sholat di kantor pintu tol Plumbon.


Di Cikampek kami mengalami kemacetan. Keluar pada pintu di km 72 tol Cikampek. Kemacetan ini menjadi tontonan masyarakat sekitar.

Foto taken by Rama

Menuju kota sadang. Lewat jalur reguler. Alhamdulillaah, ada mesjid besar yang hampir selesai pembangunannya. Kami istirahat di situ. Waktu selepas isya. Beristirahat sampai jam 21.00




Makan dan menuju pintu tol Sadang. Karena kami mendapat berita tol dibuka one way sampai dengan Cawang. Sebelumnya hanya sampai Kalihurip km 70. Dalam kenyataannya hanya sampai Cikarang barat. Sampai rumah, Jakarta 03.15. One way untuk arus balik ini rupanya hanya memindahkan kemacetan karena semua menuju 1 titik. Berbeda dengan arus mudik.

Rabu, 12 Juni 2019

Teras Kaca


Sehari sebelum lebaran 1440 H, mencoba lokasi yang lagi rame dibicarakan. Menuju pantai gesing dengan obyeknya Teras Kaca. Sebuah tempat wisata yang menggunakan kaca sebagai tempat berpijaknnya untuk spot foto. Tempat ini buka dari jam 09.00 sampai 17.00 dengan harga tiket masuk 5k/orang.





Untuk spot foto ada yang berbayar dan ada yang gratis. Yang berbayar pun dihitung per orang dan ada waktunya. Dihitung permenit/orang. Hal ini tentu karena ada infrastruktur bangunan yang tidak murah sekaligus juga agar pengunjung tidak terkonsentarasi pada satu tempat.  







Mengingat tempatnya ada ditebing yang dibawahnya langsung laut selatan. Faktor keamanan jadi prioritas tentunya. Pada peak season, antrian bisa panjang untuk spot foto yang berbayar tersebut. Saat kami tiba di sana pukul 08.00, waktu buka tidak bisa dimajukan. Padahal sudah ada beberapa pengunjung yang datang lebih pagi dari kami. 


Jika di sini terasa kurang untuk pengambilan spot foto, bisa berpindah tempat. Disebelah Teras Kaca ada pantai Gesing. Jaraknya kurang lebih 200m kearah tenggara. Berbayar sekali untuk masuk dan parkir kendaraan. Spot foto juga berbayar hanya sekedar sebagai tanda terima kasih sudah dibuatkan tempat untuk berfoto. Lebih sangat ekonomis. 












Spot naik perahu, padahal perahunya ada di atas, tidak menyentuh air. Tipu-tipu dah.



Bahkan bisa bermain air di sini. Pastikan bawa pakaian pengganti. Karena biasanya tidak bisa menahan diri untuk bermain air. Kuliner disini juga lumayan dengan harga masuk akal.. Mau mengexplore tempat juga asik. Banyak tempat yang bisa dijelajahi guna mencari spot foto jika yang sudah ada masih kurang. Biar beda.